Kamis, 15 Agustus 2013

Kompetensi Dasar 1

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian perencanaan pembelajaran

BAB 1
PENGERTIAN PERENCANAAN PEMBELAJARA PAK
1.    Pengertian Perencanaan dan Perencanaan Pembelajaran

Dasar Teologis

Isi Pendidikan Kristen adalah Alkitab. Artinya pokok-pokok pelajaran yang hendak disampaikan kepada peserta didik dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi dalam pelajaran Agama Kristen di ambil dari Alkitab. Dengan pemahaman yang demikian maka pokok penjelasan pengertian pembelajaran dari sisi teologis didasarkan pada Alkitab.

Beberapa ayat Alkitab dalam Kejadian yang dapat kita jadikan sebagai dasar teologis merumuskan pengertian perencanaan. Penulis kitab Kejadian memulai epistemologinya tentang perencanaan dengan menyatakan:
Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan: Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” “Jadilah Cakrawala”, dan seterusnya sampai akhir kisah penciptaan. Selain itu hal yang patut diperhatikan dalam konteks perencanaan adalah bahwa Tuhan menciptakan manusia “Laki-laki dan perempuan” segambar dan serupa” dengan-Nya (bnd. Kej. 1:1-30). Kemudian dalam Kejadian 4:1-16 terdapat narasi tentang kehidupan keluarga manusia pertama yaitu Kain dan Habel, kemudian kehidupan Kain dan Habel dalam hubungannya dengan korban persembahan kepada TUHAN. Selanjutnya kita dapat menemukan banyak rujukan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dapat kita jadikan sebagai dasar spirit teologis merumuskan dan menyemangati semangat kita dalam perencanaan pembelajaran.
Baiklah, kini saya mulai dengan merumuskan hakikat dan pengertian perencanaan dan perencanaan pembelajaran. Beberapa ayat Alkitab yang saya kemukakan di atas dikelompokkan dalam dua bagian, yakni:
a.    Perencanaan Tuhan
b.    Perencanaan Manusia

Perencanaan Tuhan yaitu Tuhan merencanakan sejak kekekalan-Nya (lihat ungkapan “pada mulanya”) akan apa yang hendak diwujudkan. Berdasarkan perencanaan-Nya itu, TUHAN mewujudkan “langit” (Kej. 1:1). Langit sebagaimana yang kita saksikan merupakan hasil perencanaan TUHAN, sehingga bila kita pandang dari sisi ontology yang dibaringi dengan epistemology dan aksiologi maka kita akan dibuat kagum akan hasil perencanaan TUHAN. Demikian pula bumi, adanya bumi dan segala isinya merupakan perwujudan dari perencanaan Allah. Contoh: Kelapa. Bila kita memikirkan dari sisi perencanaan dengan kemasan berpikir filosofis teologis maka akan membuat kita semakin kagum akan Tuhan yang menciptakan bumi dan isinya.

Tuhan juga mewujudkan perencanaan-Nya dengan kehadiran manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Tuhan merencanakan agar manusia itu berkuasa atas alam ciptaan-Nya (bnd. Kej. 2:15). Manusia direncanakan Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara dan memanfaatkan isi bumi. Manusia yang bekerja memelihara dan mengusahakan adalah manusia yang berada dalam perencanaan Tuhan. Selain itu, Tuhan merencanakan agar manusia mempunyai keturunan dan berusaha mendidik manusia. Kemudian rencana mendidik itu diteruskan oleh manusia sepanjang zaman sampai ditemukannya sekolah formal.

Saya telah kemukakan di atas bahwa TUHAN merencanakan penciptaan langit dan bumi serta penciptaan manusia serta perencanaan tentang pendidikan yaitu Tuhan mendidik manusia pertama dan manusia itu mendidik anak-anak yang dianugerahkan Tuhan.

Manusia yang diciptakan Tuhan diberi kemampuan untuk merencanakan. Kemampuan itu kita pahami dari kata “segambar dan serupa”. Manusia diberi kemampuan berpikir untuk merencanakan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan dan dengan dirinya dan sesama.

Jadi, intinya bahwa perencanaan merupakan salah satu tema dalam Alkitab. Perencanaan itu luas cakupannya. Dalam konteks mendidik, perencanaan itu disebut perencanaan pembelajaran. Adam dan Hawa merencanakan untuk memiliki keturunan (perencanaan keluarga), Adam dan Hawa merencanakan pernikahan anak-anaknya, ini disebut perencanaan perkawinan, dll. Fokus perhatian kita adalah pada konteks Adam dan Hawa mendidik anak-anaknya yang dalam bahasa terkini kita sebut “perencanaan pembelajaran”. Hal ini mungkin kedengaran aneh dalam epistemology rekan-rekan Biblika (dosen-dosen yang mengajar Tafsir). Saya sadari bahwa pendekatan saya adalah pendekatan filosofis-teologis edukatif.

Berdasarkan paparan di atas dirumuskan sebuah definisi konseptual tentang perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran adalah menggunakan kemampuan logi yang diberi TUHAN untuk mewujudkan perubahan yang diharapkan dalam kegiatan kesediaan orang dewasa menuntun orang yang belum dewasa atau kegiatan merencanakan memanusiakan manusia muda. 

Dasar Teori 

Dalam teori terdapat definisi, konsep-konsep, dalil-dalil yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. Jadi dasar teori perencanaan pembelajaran saya mulai dengan pengertian perencanaan. 
Beberapa definisi yang dapat dikemukakan di sini untuk menghantar kita merumuskan apa itu perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Harus disadari bahwa Pendidikan Kristen harus terbuka terhadap berbagai disiplin Ilmu sepanjang tidak bertentangan dengan kebenaran TUHAN (Alkitab). Salah satu keterbukaan itu yaitu Pendidikan Agama Kristen harus terbuka dengan disiplin Ilmu Perencanaan Pembelajaran. Hal ini berarti usaha merumuskan pengertian perencanaan dan perencanaan pembelajaran akan kita lakukan dalam lintas ilmu, lintas personal tanpa memandang agama yang dianut oleh ahli perencanaan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena “kebenaran” bersifat universal. Dalam konteks epistemology demikian mari kita membangun landasan epistemology perencanaan pembelajaran dengan mengacu pada definisi-definisi para ahli berikut ini.

  Menurut Cunningham (dalam Uno, 2006:1) perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima akan dignuakan dalam penyelesaian.[1] 
Fokus penekanan definisi di atas yaitu pada aspek: usaha menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mecapainya. Apa wujud yang akan datang dan bagaimana usaha untuk mencapainya merupakan perencanaan[2]. 

Menurut Arthur W. Steller (dalam Uno, 2006:1) Perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya yang berhubungan dengan kebutuhan, penentuan tujuan, perioritas, program, dan alokasi sumber.[3] Dalam definisi ini, frasa “Bagaima seharusnya” itu mengacu pada masa yang akan datang. Hal ini menegaskan bahwa perencanaan itu menekankan pada usaha mengatasi kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang yang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan, yaitu menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan mendatang yang diinginkan. 

Menurut Stephen P. Robbins (dalam Uno, 2006) Perencanaan adalah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan perubahan. Definisi ini menyatakan bahwa perubahan itu ada dan selalu terjadi. Perubahan itu selalu diantisipasi dan hasil antisipasi itu dipakai agar perubahan itu berimbang. Perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan yang terjadi dalam pembelajaran. Jadi makna perubahan disini adalah usaha mengubah organisasi agar sejalan dengan perubahan lingkungannya (pembelajaran). 

Jadi, perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Pengertian Perencanaan Pembelajaran dilanjutkan dalam postingan berikutnya


Salamperencanaan
     
   ttd 

Yonas Muanley


[1] Hamsah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), 1
[2] Ibid
[3] Ibid
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo gabung dengan